Saturday, September 10, 2011

Blind Color Test :')




Adakah yang ga bisa lihat angka berapa di atas? Well, sory.. I don't mean to.. :')
*dedicated to all my friends at GFJA XVII

Friday, July 22, 2011

Nirmana #1 >> Orange and Friends

Orange and Friends
(drawing pen on plain paper, July 2011)

Sunday, February 20, 2011

Anak Jalanan di Dalam Kereta


Dhea, 11 tahun, seorang pengamen stereo di KRL Ekonomi Jakarta-Bogor yang sudah sejak dalam kandungan terbiasa dibawa ibunya mengamen di kereta, sehingga akhirnya mengamen stereo di kereta menjadi jalan hidupnya.

Di Dalam Gerbong >> Sepanjang gerbong-gerbong di dalam KRL Ekonomi Jakarta-Bogor inilah Dhea menghabiskan hari-harinya mencari sedikit penghidupan untuk dirinya dan keluarganya.


11 tahun sudah Dhea hidup di dunia ini, 11 tahun itu juga Dhea menghabiskan hari-harinya dari gerbong ke gerbong dalam kereta Jakarta – Bogor bersama keluarganya, mengamen untuk hidup. Ayah dan ibu Dhea dulunya juga pengamen di dalam kereta, hingga akhirnya mereka berkeluarga dan mempunyai anak, mereka tetap mengamen karena hanya inilah yang mereka bias. Maklum ayah dan ibu Dhea tidak lulus sekolah dasar, sehingga mereka tidak punya keterampilan apa pun yang bisa dijadikan modal untuk mencari pekerjaan.

Terbiasa dibawa orang tuanya mengamen di dalam kereta, karena alasan bila membawa anak kecil pendapatan menjadi lebih besar, membuat pekerjaan ini seperti telah mendarah daging dalam diri Dhea dan saudara-saudaranya, tanpa disuruh apalagi dipaksa untuk mengamen, Dhea dengan senang hati menawarkan dirinya untuk mengamen sendiri membantu keluarganya, saudaranya yang lain pun begitu. Terhitung sejak masuk sekolah dasar, Dhea dan saudara-saudaranya sudah dilepas orang tuanya untuk mengamen sendiri di dalam kereta, dimulai dari Stasiun Kereta Cilebut, Stasiun Kereta Bogor hingga Stasiun Kereta Manggarai lalu kembali lagi ke Stasiun Kereta Cilebut, istirahat sebentar kemudianmengulang kembali rute tersebut sampai kereta terakhir dari Stasiun Kereta Bogor menuju Jakarta yang singgah di Stasiun Kereta Cilebut pada pukul 21.00 WIB barulah Dhea bisa beristirahat.

Sekarang ini orang tua Dhea tidak lagi mengamen di dalam kereta, mereka sudah punya sebuah warung kecil di peron Stasiun Kereta Cilebut, yang modalnya juga didapatkan dari hasil mengamen keluarganya selama bertahun-tahun yang ditabung sedikit demi sedikit. Terkadang orang tua Dhea masih mengamen, tapi bukan di dalam kereta lagi, melainkan di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. Bersama anak-anaknya mereka berangkat dari rumahnya di Cilebut mengendarai motor sampai Pasar Induk pada pagi-pagi buta pukul 02.00 WIB. Tapi untuk pekerjaan yang satu ini, biasanya hanya mereka jalankan satu kali seminggu, selebihnya mereka menjaga warung dan hanya mengawasi anak-anak turun-naik kereta untuk mengamen. Tidak tahu kenapa, tapi sepertinya orang tua Dhea tidak khawatir anak-anaknya suatu waktu akan tertimpa kemalangan yang buruk dikarenakan pengawasan yang minim selama anak-anaknya mengamen hingga jauh ke Manggarai, padahal mereka sendiri tahu Dhea dan adiknya, Dhita, pernah dua kali dipreteli perhiasannya dan diambil uang hasil mengamennya oleh orang jahat berjilbab yang berpura-pura baik hati menawarkan makan siang. Dhea sendiri dan saudara-saudaranya juga terkesan tak mau ambil pusing dengan kejadian yang pernah menimpanya itu, padahal anak-anak jalanan seperti Dhea dan saudara-saudaranya merupakan ladang yang subur untuk kejahatan.


Dhea dan Amplop-amplop Angpaunya >> Dhea sedang membagikan amplop yang digunakan sebagai wadah untuk tempat menaruh uang pemberian para penumpang kereta kepadanya. Amplop-amplop ini di depannya sudah ditulisi kata-kata yang dapat membangkitkan simpati penumpang kereta terhadapnya, sehingga mereka tidak segan mengeluarkan uang untuknya.


Berebut Rezeki >> Tidak hanya Dhea yang menggantungkan mata pencahariannya dari gerbong ke gerbong di dalam kereta. Ada ratusan pedagang dan pengamen lainnya yang juga mencari nafkah di sini. Walaupun rezeki sudah ditentukan oleh Tuhan, tak dipungkiri di sini setiap harinya terjadi perebutan rezeki karena terlalu banyaknya yang menggantungkan penghidupannya di dalam gerbong kereta.


Ketika ditanya mau sampai kapan terus mengamen di dalam kereta, Dhea menjawab, "gak tau.." dengan pandangan yang kosong. Hanya kakaknya yang pertama dan yang kedua yang sudah berhenti mengamen. Yang pertama karena sudah menikah dan dilarang suaminya untuk mengamen lagi, sedangkan yang kedua berhenti mengamen karena katanya malu sudah besar masih saja mengamen dan akhirnya memilih untuk berdagang minuman saja di kereta. Dhea dan dua saudaranya yang lain masih setia mengamen stereo di dalam kereta. Mungkin dikarenakan keluarga Dhea sudah merasa bahwa dari pekerjaan inilah mereka dapat hidup, sehingga sulit bagi mereka melepaskan pekerjaan ini.


Dhea dengan Mainannya >> Walaupun setiap harinya Dhea harus mengamen untuk membantu kehidupan keluarganya, namun pada hakikatnya Dhea tetaplah seorang anak berumur 11 tahun yang masih suka bermain. Maka dengan pendapatannya dari mengamen stereo di kereta, Dhea bisa meminta dibelikan apa saja kepada orang tuanya, termasuk sebuah otopet mainan yang dibeli dari hasil mengamennya, tempat bermainnya pun tak jauh-jauh dari lokasi pencarian nafkahnya, stasiun kereta.


Untuk pendapatan, setiap harinya dari Dhea saja biasanya dapat menghasilkan Rp 20,000,- s/d Rp 50,000,-. Belum lagi dari dua saudara Dhea lainnya. Uang hasil mengamen ini mereka berikan seutuhnya kepada orangtuanya untuk nantinya dipakai membayar sekolah, membeli buku pelajaran, jajan dan kebutuhan hidup mereka lainnya. Walaupun terkesan sulit, tapi ternyata hidup mereka tidak benar-benar sesulit yang kita bayangkan, terbukti dari barang-barang yang mereka miliki dari hasil mengamen ini, seperti motor, mainan baru, telepon genggam sampai rumah. Pantas mereka tidak mau melepas pekerjaan ini. Inilah pilihan hidup mereka sendiri, dengan Dhea di dalamnya.


Coba tebak, di dalam kereta ada apa saja..??

Ada masinis, ada penumpang, ada pedagang asongan, dan ada aku..

Belum pernah bertemu denganku di dalam kereta..?? Kalau begitu kita pasti bertemu.. Di stasiun selanjutnya.. :-)


Lavanda Wr. Sun, 20022011


Monday, March 8, 2010

Indahnya dunia ini...

Tuhan menciptakan dunia ini dengan sangat indah.. Look around u, so colorful, so beautiful!
if i could, i want to traveling all over the world and capture everything i see in my camera.. so far i have captured a little bit of Jakarta and West Java and i want u all to enjoy it like i did..

from Ambasador 7th floor Parking Building, Jakarta

from Gn.Salak, Bogor to Jakarta

from Sky Dining, Plaza Semanggi, Jakarta

from Caringin Tilu to Bandung, West Java

Pantai Batu Karas, Ciamis, West Java

Kawah Domas 360 derajat, West Java

Opa's Willem Gerarld Yongkindt Konningt grave, Pangalengan, West Java

from Dago Bengkok to Bandung, West Java

Wednesday, March 3, 2010

Tentang Pandji dan Puisi

Sepertinya tadi malem gw mimpiin Pandji, dan hal ini membuat gw ngerasa seperti ada yang ngeganjel. Pada akhirnya gw inget sesuatu, setelah sekian lama, I used to write poems.. Bahasa Indonesianya: Saya dulu suka menulis puisi.. And then where are those poems now..?? Tertulis rapi dalam sebuah buku yang hampir membusuk dalam kamar gw. Terakhir kali gw sentuh buku itu adalah waktu Hanggi balikin buku itu setelah dia pinjem, semester berapa tu ya, gw juga lupa, pokoQnya udah lama banget. Sebelumnya bahkan gw ga pernah nulis lagi di buku itu sejak Pandji meninggal. Tulisan terakhir dalam buku itu adalah tulisan tentang Pandji, sejak itu daya imajinasi gw akan berpuisi hilang sudahhh..!! Entah mungkin karena puisi-puisi yang gw tulis sebelumnya sebenernya memang tentang Pandji, jadi setelah Pandji udah ga ada gw ngerasa kebas dengan sendirinya, or suddenly closed to everything. I don’t know.. All that I know, I missed him..


Terkesan seperti Pandji itu cowo gw ya..?? Hahahahahaaa.. No, he wasn’t! He was my uncle, but also like my brother. Pandji lah satu2nya orang, selain emak-bapak gw, yg paling tulus ngejaga & sayang sama gw, tempat gw ngadu, tempat gw ketawa, tempat gw bisa berbagi rahasia. He was everything. Now I realize that all lovely poems I’ve made was inspired by Pandji, only the lovely ones, yang bukan lovely poems inspired by someone or two assholes I don’t want to mention their names. Kenapa inspired by Pandji..?? Ya karena selama itu yang ngasi gw sayang dan cinta yang tulus (sebagai kakak & guardian yang baik) ya cuma Pandji, and I just realize it about a minute a go.


Gw jadi buka2 buku puisi itu lagi… Dan gw inget, ini puisi gw yang paling gw suka..


Jika aku jadi burung

aku akan datang bertandang ke rumahmu

dan melepaskan rindu bersamamu


Jika aku jadi pohon

aku ingin kau menjadi akarku

agar aku bisa berdiri tegak menantang langit


Jika aku jadi hujan

aku akan menghujanimu tanpa henti

dan membuatmu basah dengan airku yang menyejukkan hatimu


Jika aku jadi puisi

aku ingin kau menjadi bait-bait dalam puisiku

agar setiap orang dapat merasakan keindahan yang kita bina


Jika aku jadi malaikat

aku akan menjagamu

dan memberimu kasih sayang tanpa batas


Jika aku kedinginan

aku ingin kau tetap menjadi matahariku

agar kau bisa menghangatkanku selalu dengan sinarmu yang abadi


- Oct 28th, 2002 [Mon] –



Dan setelah gw baca2 ulang lagi, sepertinya pada bait ke-5 sekarang posisinya jadi berubah, Pandji lah yang sebenernya adalah malaikat, dan dulu saat dia masih hidup dialah matahariku yang selalu menghangatkan gw. Ya Allah, kenapa gw tulis ini..?? Malah jadi keingetan Pandji lg, sedih lagi dehh.. now I’m really crying..


Udah ah nangisnya, yang penting sekarang udah ga ada yang ngeganjel lagi, cuma gara2 buka2 ni buku lagi gw jadi nemu puisi2 lain yang udah bener2 busukk! Pengen ketawa kalo baca isinya, apa lagi lihat tanda tangan penulisnya, tapi sebel juga, jadi senyum aja dech.. Makan ni puisi busukk..


Kala mimpi datang

dan angan pun berjalan

yang ada hanya dirimu seorang

Walaupun anganku berupa harapan

Harapan ‘tuk bersatu denganmu


Sempat ku coba ‘tuk lupakan dirimu

Sungguh terasa menyiksa

karna ku tahu diriku tak bisa hentikan cintaku

meskipun buahkan lupa


Aku tak peduli

karna hidupku hanya harapan

Harapan yang selalu berangan-angan

‘tuk dapat miliki dirimu selamanya


- oknum “B”, 271103, 03:25 –



Uhh bassssii..!! Coba kalo sekarang ni puisi dibaca sama cewenya, kalo ga langsung minta putus ‘tu cewenya. Ahhahahahahahahaaaa..!!


Tanpa sadar gw menyatukan semua puisi-puisi itu dalam buku ini, bareng sama puisi-puisi dan cerita tentang Pandji, bahkan ada beberapa tentang Gemblonk. Heheheheee..


Last thing I can say tonight, I love Pandji so much, I missed Pandji so much and I really thankful so much to had him in my life, I wish u still here, but I know u’re now in peace, so sleep well my beloved Pandji. I hope I can find someone else like u who could make me write another lovely poems like I used to write when u around. I hope… Amien!